Hari Ibu dan Refleksi Akhir Tahun - HERAPRI.ID

Latest

Thursday, December 22, 2011

Hari Ibu dan Refleksi Akhir Tahun

| Ilustrasi |
HERAPRI.ID - Sudah 82 tahun berlalu, ketika para wanita sejagad Indonesia menghimpun diri pada 22-25 Desember 1928 di Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto Yogyakarta. Ihwal yang menggerakkan mereka untuk mengunifikasikan agenda perjuangan kaum wanita? Mereka tergerak oleh prototipe pejuang wanita pada abad ke-19 semisal Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, RA Kartini, Nyai Achamd Dahlan dan pejuang wanita lainnya kala itu. Konon dalam sejarah, mereka ini adalah wanita-wanita yang berani melapaskan diri dari belenggu kolonialisme dan belenggu budaya. 

Kongres wanita Indonesia (KOWANI) ini, kemudian menjadi tonggak sejarah lahirnya hari ibu, yang ditetapkan pada tanggal 22 Desember 1938 tepat pada Kongres Perempuan Indonesia III dan melalui ketetapan Presiden kala itu Ir. Soekarno, melalui No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini. Hal yang paling bermarwah dan berhikmah dari peristiwa bermartabat ini adalah, kaum wanita, mulai sadar akan eksistensi dan ranah sosialnya. 
Mereka mulai sadar bahwa ada ketidakadilan struktur sosial, ada realitas yang menindas dan memberangus eksistensi mereka. Inilah elan kesadaran yang kemudian menggunung menjadi suatu semangat bergemuruh untuk membebaskan diri dari kebodohan, ketertindasan dan ketertinggalan di multi aspek kehidupan sosial. Kongres wanita Indonesia yang kemudian diperingati sebagai hari ibu, adalah suatu kemampuan terukur kaum wanita Indonesia untuk mengorganisir kekuatannya dalam merespon persoalan-persoalan kebangsaan dan komunitasnya sendiri. 
Dan dari jarak ruang dan waktu yang jauh (hari ini) kita dapat melihatnya, bahwa apa yang dilakukan para tokoh-tokoh wanita saat itu, adalah suatu gerakan pembebasan sekaligus mengembalikan harkat kaum perempuan ke altar sebenarnya sebagai manusia yang setara dengan manusia lain. Paling tidak, hal itulah yang terlihat. Sebagaimana yang dilakukan oleh RA Kartini dan wanita pejuang lain sepertinya.
Dan jika kita melihat realitas kaum perempuan saat ini, sejatinya kita perlu menarik masa lalu perjuangan kaum perempuan Indonesia kala itu, untuk memberikan energi gerak wanita Indonesia saat ini. Karena semangat gerakan kaum wanita saat ini, cenderung mendua dan tak lagi otentik-ideologis. Gerakan kaum perempuan Indonesia saat ini, tidak lagi dibentuk oleh kesadaran dan mind-set ideologi. Semuanya serba proyek dan pargamtis. NGO (Non Government Organization) yang bergerak di ranah keperempuanan di Indonesia, terlihat cenderung berkiblat pada negara pendonor.
Akibatnya, otentisitas gerakan tak dipedulikan. Mereka terlepas dan telanjang dari asupan nilai-nilai kearifan lokal. Mereka memperjuangkan kesetaraan, tapi juga memperjuangkan mainstream asing dan kemudian memberangus kearifan lokal. Kepembembelaan mereka terhadap harkat perempuan tidak lagi berpijak pada nilai secara genuine. Malah sebaliknya mereka mengeksodus ideologi-ideologi impor dan melakukan kapitalisasi nilai-nilai perjuangan kaum perempuan. “Perjuangan kaum perempuan, lalu berubah menjadi proyek perjuangan kaum perempuan”
Tragis memang. Diakhir tahun ini, saya berharap, semoga dengan jarak waktu yang sekian jauh, kaum wanita Indonesia dan para ibu-ibu pejuang, haruslah terus merasa terpangil, untuk merespon realitas dan memberikan sentuhan gerakan bagi kemajuan dan pembebasan kaum wanita Indonesia. 

Selamat Hari Ibu.

1 comment:

Anonymous said...

IBU, sebuah kata yang sarat akan makna. HAPPY MOTHER'S DAY!!