Ibas Komitmen Lestarikan Budaya Jawa Melalui Wayang Kulit - HERAPRI.ID

Latest

Monday, January 09, 2012

Ibas Komitmen Lestarikan Budaya Jawa Melalui Wayang Kulit

| Ilustrasi Wayang |
HERAPRI.ID - Masyarakat Pacitan yang hobi menyaksikan pentas kesenian tradisional wayang kulit, kembali disuguhi penampilan dalang Ki Fajar Ariyanto dari Surakarta. Pentas wayang kulit semalam suntuk di Halaman Kecamatan Punung ini merupakan pesta rakyat dalam rangka tasyakuran pernikahan Edhie Baskoro Yudhoyono yang akrab dipanggil Ibas dan Siti Ruby Aliya Rajasa yang biasa disapa dengan panggilan Aliya. Ratusan warga dari Kecamatan Punung dan sekitarnya sangat antusias melihat pagelaran wayang hingga selesai.

Dalam pementasan wayang kulit itu, Ki Fajar Ariyanto menampilkan lakon Wisanggeni Kromo. Lakon yang memiliki filosofi tinggi ini, yakni lahirnya tokoh muda yang berkarakter, pantas dicontoh oleh generasi muda negeri ini. Sebab, Wisanggeni adalah sosok tegas, kritis, dan cerdas, serta siap membela bangsa dan negara.

Menurut Staff Ahli Edhie Baskoro Yudhoyono yang juga ketua Tim EBY, Bonggas Adhi Chandra, pesta rakyat berupa pergelaran wayang kulit ini adalah wujud dari komitmen Edhie Baskoro Yudhoyono melestarikan kesenian tradisional wayang kulit. "Mas Ibas sangat komit terhadap pelestarian budaya tradisional wayang kulit," kata Bonggas.

Dikisahkan, BAMBANG WISANGGENI adalah putra Arjuna, salah satu dari lima satria Pandawa, dengan Dewi Dresanala, putri Bathara Brahma dari permaisuri Dewi Sarasyati.Wisanggeni digambarkan sebagai sosok yang pemberani, tegas dalam bersikap , dan memiliki kesaktian yang luar biasa. Bahkan kesaktiannya melebihi kesaktian anak para Pandawa yang lain seperti Antareja, Gatotkaca maupun Abimanyu. Dalam berbicara Wisanggeni tidak pernah menggunakan basa krama kepada siapapun kecuali dengan Sanghyang Wenang.

Wisanggeni diasuh dan dibesarkan Batara Baruna (Dewa penguasa lautn) dan Hyang Antaboga, yang menjadikan Wisanggeni memiliki kesaktian yang laur biasa. Dalam cerita pewayangan, Wisanggeni dikisahkan bisa terbang seperti Gatotkaca dan ambles bumi seperi Antareja, dan hidup di laut seperti Antasena.

Wisanggeni menikah dengan Dewi Mustikawati, putri Prabu Mustikadarma, raja negara Sonyapura. Menjelang meletusnya perang di Kurukhsetra (Baratayuda), Wisanggeni bersama Antasena naik ke kahyangan Alang-alang kumitir untuk meminta restu kepada Sanghyang Wenang. Namun Sanghyang Wenang justru meramalkan, bahwa Pandawa akan kalah apabila Wisanggeni dan Antasena ikut daam pertempuran tersebut. Akhirnya Wisanggeni dan Antasena memutuskan tidak kembali ke perkemahan Pandawa dan rela menjadi tumbal demi kemenangan para Pandawa. Mereka berdua mengheningkan cipta, dan kemudian mereka mencapai moksa, musnah bersama jasadnya.

1 comment:

Anonymous said...

Pelestarian budaya sangat penting. Harus ada upaya nyata dari stake holder yang ada. Termasuk diantaranya politisi dan pemerintah. Mantab Mas Ibas :)