Quo Vadis Pendidikan Indonesia - HERAPRI.ID

Latest

Wednesday, January 04, 2012

Quo Vadis Pendidikan Indonesia

| Ilustrasi |
HERAPRI.ID - Berbicara soal pendidikan di negara ini, memang sering kali menjumpai jalan buntu. Kenapa pendidikan negara ini seakan-akan jalan di tempat, tidak pernah maju. Ada saja yang disalahkan, apakah itu kurikulumnya, metodenya, hingga sumber dayanya. Sikap saling tuduh dan menyalahkan tersebut sudah saatnya untuk dihindari. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana negara ini berani untuk melakukan perubahan pada elemen-elemen penting dalam sistem pendidikan. Hasilnya diharapkan perbaikan mutu pendidikan yang menghasilkan keluaran yang bermutu dan mampu bersaing dengan negara-negara maju.

Selama ini, pembelajaran kita hanya mengedepankan nilai. Kalau boleh dikata, pembelajaran Indonesia lebih mengagung-agungkan nilai. Bagi seorang murid, nilai adalah sangat penting. Lebih parah, pendidik dan orang tua murid sendiri lah yang memandang keberhasilan seorang murid dengan melihat seberapa besar nilai yang diperoleh oleh seorang murid. Nilai bagus dalam ujian akhir ataupun tes menjadi ukuran untuk pengangkuan “ terdidiknya seseorang”. Penentuan terdidik ataupun tidak terdidik seseorang hanya ditentukan oleh ranking. Semakin tinggi ranking nilai yang didapat, semakin tinggi pula pengangkuan masyarakat terhadap seseorang yang sangat terdidik (well educated). Substansi pendidikan sering kali dilupakan. Peserta didik hanya dicekoki materi-materi untuk dihafalkan memalui metode drill, try out, dll tanpa adanya upaya penanaman konsep sehingga peserta didik memperoleh materi yang mampu memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berinovasi dan berkreasi. Metode menghafal sering kali menjadi pilihan utama untuk mendapat nilai bagus(tinggi). Metode itu hanya bertahan (maap) ketika peserta didik menghadapi ulangan umum atau ujian. Setelah selesai menempuh ulangan harian, peserta didik akan lupa apa yang sedang dipelajarinya. Peserta didik tidak mampu memetik setiap lesson learn setiap pembelajaran yang diberikan oleh pendidik.

Dunia persekolahan tidak mengajar anak didik untuk berpikir, untuk ekspoloratif dan kreatif. Seluruh suasana dan gaya persekolahan adalah penghafalan tanpa pengertian yang memadai, taat kepada komando, sedangkan bertanya apalagi berpikir kritis praktis adalah tabu. Siswa tidak didik tetapi di-drill, dilatih, ditatar, dibekuk agar menjadi penurut – tidak jauh berbeda dari pelatihan binatang-binatang “pintar dan terampil” dalan sirkus.

Tuntutan seorang orang tua yang akan membanggakan diri ketika peserta didik mereka mendapat nilai tinggi atau seorang pendidik yang dapat membanggakan diri di Kepala Dinas atau sekolah lain ketika sekolah mereka meraih nilai tertinggi dalam ujian tidak mampu meningkatkan kepekaan emosi para peserta didik. Peserta didik hanya dituntut secara akademis harus mampu bersaing tanpa mematrikan sebuah konsep ilmu yang akan dia bawa hingga akhir hayat. Peserta didik tumbuh dan kembang bukan mewakili watak mereka masing-masing namun tumbuh dan kembang sesuai dengan keinginan orang tua atau pendidik.

Pembelajaran yang membelenggu tersebut, menurut Foucoult dalam The Arceology, adalah pembelajaran yang hanya mengedepankan transfer knowledge semata. Tidak ada upaya menjadikan pembelajaran yang membebaskan yakni pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pengetahuan dan menjadi proses transformasi yang diuji dalam kehidupan nyata. Bagaimana menjadikan peserta didik tumbuh dengan karakter terdidiknya menjadi pribadi yang utuh dan mampu memberikan kontribusi nyata pada kehidupan adalah yang menjadi pekerjaan rumah sistem pendidikan di Indonesia.

Pendidikan dalam arti sebenarnya adalah proses pendewasaan seseorang dengan menggunakan segala potensi yang ada di dirinya sehingga mampu memberikan kontribusi nyata dalam kehidupan. Proses pendewasaan tersebut dilakukan oleh manusia karena manusia adalah makhluk terdidik dan makhluk mendidik.

Pendidikan bukan saja hanya interaksi aktif dari pendidik ke peserta didik namun interaksi multi arah antara peserta didik, pendidik, dan lingkungan. Dengan demikian, pendidik bukan lah satu-satunya sumber pembelajaran. Pengembangan potensi peserta didik tidak hanya dalam sebatas ranah kognitif namun juga afektif serta psikomotorik. Nilai tidak satu-satu hal yang menjadikan sesorang berhasil / tuntas dalam pendidikan. Kognitif bahkan tidak menjadi nomer satu dalam pendidikan. Tidak ada guna ketika seseorang dengan nilai akademik tinggi, pengetahuan luas tapi kurang mampu memanfaatkannya untuk lingkungannya. Manusia mampu meningkatkan kesejahteraannya melalui pendidikan.

Pembelajaran seharusnya mengedepankan pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan diri secara akademis dan emosional secara seimbang. Tak hanya kemampuan otak saja yang harus diutamakan namun kemampuan ketrampilan hidup yang akan menuntun peserta didik dalam keberhasilan hidup. Pendidikan saat ini hanya memperhatikan intelektualitas belakan dan tidak memerdekan peserta didik.

Pendidikan yang hanya mengedepankan intelektual terkait dengan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) pendidik. Pendidik kurang mampu mengarahkan peserta didik untuk mengelola potensi diri seoptimal mungkin dan bukan hanya mengandalkan otak sebagai modal untuk mencapai orang yang “terdidik”. Konsep-konsep penting dalam ilmu pengetahuan tidak mampu ditanam ke dalam jiwa dan pikiran peserta didik oleh seorang pendidik. Kurang adanya pemahaman bahwa mendidik adalah mendewasakan pola pikir orang menjadikan pendidikan di Indonesia mencetak sarjana-sarjana yang tidak mampu mengatasi persoalan hidup.

Bukan saatnya, kita menciptakan manusia yang hanya mampu beradu argumentasi tanpa mampu menghadapi tantangan hidup dan mengambil segala resiko dan kesempatan dengan penuh tanggung jawab. Output pendidikan menjadi tanda tanya besar saat ini. Banyak orang dengan ijazah tinggi namun tidak bekerja dan hal tersebut memperburuk pembangunan yang sedang dijalankan saat ini. The highest function of education is to bring about an integrated individual who is capable of dealing with life as a whole. Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia.

Pembelokan pengertian pendidikan di Indonesia menuntun mutu pendidikan Indonesia sulit maju. Peserta didik bukan lagi subjek pendidikan namun telah berubah menjadi objek pendidikan oleh pendidik yang dengan mudah hanya mengangguk ketika terjadi transfer knowlegde dari pendidik. Peserta didik tidak diberikan ruang yang bebas dalam mengekploitasi seluruh potensi yang ada di dalam diri. Output menjadi tidak berkompeten. Dalam praktek pendidikan di Indonesia, telah terjadi pembunuhan karakter peserta didik. Hasilnya output menjadi yes man. Pendidikan tidak sama dengan pengajaran yang hanya memberikan materi melalui one way communication.

Kemajuan bangsa ditentukan dari kualitas sumber daya yang membawa arah negara menuju perdaban. Kualitas meningkat seiring dengan meningkatnya sistem pendidikan yang memberikan ruang kepada orang untuk lebih berkeasi dengan segala potensi diri tanpa terbelenggu oleh apa pun. Negara terpuruk dihasilkan karakter masyarakat yang lemah dan tidak mampu menghadapi masalah nyata.

Peningkatan kualitas sumber daya pendidik sudah seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk mengejar ketertinggalan dengan yang lain. Profesionalisme menjadi fokus utama dalam perekrutan tenaga pendidik sehingga mampu menuntun peserta didik ke tingkat pendewasaan. Lebih lanjut, sistem evaluasi pendidikan untuk peserta didik diubah. Evaluasi bukan hanya tes tertulis dan peserta didik tidak akan semalam suntuk menghapal materi untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Pendidikan memberikan pengalaman kepada peserta didik sehingga mampu diinget sepanjang hayat oleh peserta didik. Konsep pendidikan sepanjang hayat perlu diperkenalkan untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia.

Masalahnya, quo vadis (ke manakah perginya) pendidikan karakter dalam kurikulum pendidikan di Tanah Air tercinta?!

Agaknya, pendidikan di Indonesia sudah saatnya untuk memihak kepada kompetensi, baik kompetensi keahlian maupun kompetensi karakter; bukan hanya kompetensi matematika, kimia, fisika, dan sejenisnya, melainkan justru dua kompetensi, yakni keterampilan dan karakter. 

No comments: