'Onani Politik' ala Paloh dan Ical di Stasiun (TVOne & Metro) Miliknya, Sah-sah saja? - HERAPRI.ID

Latest

Thursday, February 02, 2012

'Onani Politik' ala Paloh dan Ical di Stasiun (TVOne & Metro) Miliknya, Sah-sah saja?

| Ilustrasi |
HERAPRI.ID - Setiap kali memberitakan deklarasi Nasional Demokrat (Nasdem), Metro TV memberi waktu berita yang sangat panjang. Mungkin rata-rata 3 kali lipat dibanding dengan berita lain. Dan porsi utama pemberitaan adalah pidato Ketua Umum Nasional Demokrat, yaitu Surya Paloh. Sebenarnya bukan baru sekarang ini cara pemberitaan itu berlangsung. Sejak jaman Surya Paloh masih jadi pengurus Golkar dulu sudah begitu. Sekarang intensitasnya meningkat. Itu saja sedikit perbedaannya.

Saya harus berkata jujur bahwa Surya Paloh itu seorang orator yang buruk. Luar biasa buruk. Isi pidatonya tak jelas. Penuh dengan jargon-jargon yang pembicaranya sendiri mungkin tak paham. Struktur isinya juga tak ada. Tidak runtut, apa yang hendak disampaikan. Ini diperparah dengan “semangat” pidato yang tidak pada tempatnya. Di mana artikulasi harus diberikan, di mana suara harus tinggi, di mana harus rendah, kacau balau. Terasa sekali bahwa pidato itu sangat artifisial. Sulit menangkap kesan tulus dari seluruh pidato Surya Paloh yang pernah saya lihat.

Tak sulit untuk memahami mengapa pidato oleh orator yang buruk ini mendapat porsi yang demikian besar di Metro TV. Hampir semua orang tahu bahwa Surya Paloh adalah pemilik Metro TV. Dia bisa membuat arahan kepada seluruh manajemen Metro TV untuk menyiarkan pidatonya secara panjang lebar.

Masalahnya, ruang udara tempat siaran TV itu dipancarkan, bukan milik Surya Paloh. Juga ruang publik tempat di mana pesawat-pesawat TV diletakkan. Ruang udara dan ruang publik harus digunakan dengan etika. Karena itu pola-pola siaran harus diatur.

Celakanya, ini bukan ranah hukum. Tak ada larangan bagi stasiun TV untuk menyiarkan hal semacam itu. Sanksi terberatnya hanya “hukuman” dari penonton. “Bila tak suka, jangan tonton. Pindahlah ke saluran lain.” Tapi apakah itu satu-satunya jalan?

Saya jadi teringat pada media cetak. Ada halaman iklan yang ditulis dengan format artikel/berita. Tapi secara etis penerbit harus menandainya dengan tulisan “Iklan” atau yang sejenis itu. Tujuannya agar jelas bahwa tulisan itu dimuat atas dasar pesanan si pembayar. Dalam hal pidato Paloh tadi, saya kira Metro TV harus mengemasnya dalam bentuk iklan Nasdem dengan memberi tanda serupa. Bila tidak, Metro TV benar-benar telah menzalimi publik dengan tontonan yang tidak menyenangkan, bahkan menyesatkan.

No comments: