Ternyata Memang Benar Bahwa TV ONE dan Metro TV Sudah Menjadi Alat Politik, Pembelok Isu yang Tak Netral.. Sungguh Kasihan.. - HERAPRI.ID

Latest

Thursday, February 02, 2012

Ternyata Memang Benar Bahwa TV ONE dan Metro TV Sudah Menjadi Alat Politik, Pembelok Isu yang Tak Netral.. Sungguh Kasihan..

| Ilustrasi |
HERAPRI.ID - Bagi sebagian masyarakat yang tidak begitu menyukai acara tayangan sinetron, lawakan sekuel dan telenovela yang ceritanya bertele, acara televisi yang memberikan tayangan berita dan informasi merupakan sebuah pilihan lain yang sangat dirindukan. pada awalnya lahirlah metro TV sebagai televisi  yang membawakan berita-berita yang hangat yang sedang menjadi isu terkini bagi masyarakat, kemudian disusul oleh TV ONE.

Selain pemberitaan, kedua televisi ini memberikan opini-opini yang dijalin dalam bentuk talk show, editorial dan bentuk-bentuk talk show lainnya. tidak dapat dibantah, bahwa hasrat untuk memperoleh informasi bagi sebagian besar masyarakat dapat dipenuhi oleh pemberitaan kedua stasiun televisi ini.  Pembawa acara dikedua televisi ini menjadi tokoh-tokoh idola bagi sebagian pecandu berita. kita sudah tidak asing lagi dengan wajah menawan dan senyum indah Tina Talisa, ataupun nama-nama seperti Indy rahmawati yang pernah tersangkut kasus rekayasa pemberitaan kasus markus atau nama-nama lain seperti FRIDA LIDWINA, Prita Laura atau nama lainnya.

siapa sih yang gak tau pemilik kedua stasiun televisi ini…. ?

TVone dimiliki  yang dimiliki oleh kelompok usaha bakri ini merupakan perubahan nama dan format acara setelah Bakri memberi Lativi yang dimiliki oleh Alatief Corporation milik Abdul Latief. harus diakui bahwa Bakrie berhasil menyulap sebuah stasiun televisi yang merugi menjadi sebuah stasiun televisi yang untung dan menarik untuk ditonton. Disini dilahirkan banyak para presenter yang handal, dan pintar membawakan berita dan isu-isu yang hangat.  tentu saja hal ini didapat dengan kerja keras para kru dan seluruh pegawai yang ada di perusahaan.

Persoalannya adalah, ketika Aburizal Bakrie menjabat sebagai ketua umum Golkar, dan nampaknya pengusaha ini sangat ingin dan berambisi untuk menduduki kursi presiden di Negeri ini, yang nanti akan diperebutkan pada pemilihan presiden 2014. TV one yang sudah memiliki pamor yang baik ini terpaksa harus mengikuti kemauan dan napsu ambisi Aburizal Bakrie. Entah memang karena Instruksi dari atas atau memang inisiatif pembawa acara yang ada ditv one,  nampak sekali bahwa berita-berita yang sedang disampaikan di stasiun televisi ini menjadi media kampanye bagi Golkar dan Aburizal Bakrie sekalian sebagai media untuk memojokan lawan-lawan politik.

pada acara Apa Kabar Indonesia, nampak sekali pembawa acara stasiun televisi ini terlalu over akting untuk memojok lawan politik Aburizal Bakrie, atau mengkampanyekan  Golkar. Lihat saja pada saat pemberitaan kasus Century, TV One sangat gencar, atau pada saat pemberitaan kemenangan TimNas dalam pertandingan liga AFF yang lalu, TV One juga gencar mengkampanyekan Nurdin Halid sebagai seorang pahlawan kesiangan.saat itu juga diangkat berita bohong yang kemudian tidak dikonfirmasi kebenarannya yaitu berita bahwa Malaysia dikenakan denda  dan dikenakan sangsi karena kasus sinar laser pada pertandingan final melawan Indonesia.

Pada pemberitaan kasus gayus, bahkan TV One  sempat mengirimkan reporternya untuk melakukan survey pada beberapa perusahaan yang di duga milik “HS” yang katanya lagi adalah penyandang dana kepergian gayus kebali dan keluar negeri. tentu saja hal ini dilakukan untuk mengalihkan isu, dan anggapan masyarakat bahwa perusahaan Aburizal bakrie tidak terlibat dalam kasus gayus. memang yang terlibat tidak hanya 3 perusahaan yang dimiliki Bakri, yaitu PT. Bumi Resources, PT Kaltim Prima Coal dan  PT Arutmin saja , tetapi setidak-tidaknya memang ketiga perusahaan itu dinyatakan secara jelas oleh gayus dan terungkap di dalam persidangan.

kejadian seperti ini tidaklah pada kali ini saja, pada pemilu 2009 yang lalu pun TV ONE memperlihatkan secara jelas ketidak profesionalannya dalam menyampikan berita coba cek disini dan dalam pertarungan pemilihan ketua umum golkar yang lalupun yang dimenangkan oleh Aburizal Bakrie dapat juga dilihat fenomena ini secara jelas coba cek disini

Memang sih sah-sah saja sebagai pemilik stasiun televisi, aburizal bakri dan suryapaloh mendapatkan porsi untuk mengkampanyekan diri, serta memanfaatkan nya sebagai senjata untuk memojokan lawan-lawan politik. yang menjadi korban ketidak profesionalan ini adalah pemirsa dan tentu saja pembawa berita. Indy terlihat menjadi tidak profesional karena tidak berimbang, terlalu MPI ( mencari perhatian Ical), sehingga meninggalkan profesinalitas. sangat disayangkan sekalian, sebuah stasiun televisi yang diharapkan bisa membawa sebuah kualitas kelas didunia dibawah pimpinan Karny Ilyas yang bersuara serak-serak banjir ini harus menjadi stasiun televisi pecundang yang akan ditinggalkan para penontonnya.

Cara-cara yang dilakukan TV One ini sudah tidak akan mampu lagi memanipulasi informasi yang beredar didalam masyarakat. yang  terjadi adalah penonton menjadi muak dan selalu waspada terhadap arah dari pembelokan isu yang dilakukan oleh TV ONE.

Kalau bisa di telaah modus operandi dari pengalihan isu dan pemanfaatan sebagai alat politik yang dilakukan oleh TV One adalah sebagai berikut :

1. memberikan porsi yang lebih terhadap berita yang menguntungkan Aburizal Bakri dan Golkar.
2. Mengulang-ulang pemberitaan ataupun potongan-potongan berita yang menjadi alat untuk memojokan lawan politik. dalam kasus gayus, potongan berita pada saat gayus memberikan konperensi pers setelah sidang merupakan salah satu contoh.

3. memotong dan mengedit berita atau wawancara agar menguntungkan Aburizal Bakrie / Golkar dan memojokan lawan politik. dalam kasus konperensi pers gayus, kalimat-kalimat gayus yang diulang-ulang adalah hal-hal yang menunjang keinginan itu.

4. dalam talk show, seringkali para narasumber yang berasal dari lawan politik diberikan porsi yang tidak pas, misalnya dipotong pada saat bicara dengan alasan kejurnalistikan yang katanya agar lebih menarik, padahal  dapat menimbulkan perbedaan persepsi  dari yang sebenarnya di inginkan.
5. dalam talk show sering kali para narasumber dari kelompok-kelompok yang pro Aburizal Bakrie lebih banyak dibandingkan lawan politiknya.

sebaiknya TV one segera insyaf sebelum dilaknat oleh pemirsa…. atau bahkan diboikot.. bisa saja hadir gerakan yang akan memboikot TV ONE karena ketidak profesinalannya. tentu saja hal ini tidak hanya merugikan ical dan bakri Grup , hal ini akan merugikan karyawan dan para pembawa acara yang mungkin sebenarnya memiliki kemampuan yang handal, tetapi harus menjadi pembawa acara yang bodoh karena harus mengikuti skrip yang sudah ditentukan oleh pemilik perusahaan.

Semoga… cepat… Insyaf…. atau ada yang harus bertindak…..

No comments: