Cara Efektif Untuk Mendisiplinkan Anak Sesuai Usia - HERAPRI.ID

Latest

Tuesday, November 22, 2016

Cara Efektif Untuk Mendisiplinkan Anak Sesuai Usia

| Ilustrasi |
HERAPRI.ID - Bagaimana mendidik si kecil yang berusia 1 tahun untuk tidak bermain kabel listrik? Atau mendidik kakaknya yang berusia 5 tahun agar tidak melempar makanan? Beda usia, beda cara penanganannya. Kondisi psikologis dan mental anak berbeda sesuai dengan usia. Oleh karena itu, untuk mendisiplinkan anak perlu seni dan cara berbeda-beda, sesuai dengan tahapan usianya.

Usia 0-2 tahun

Pada usia ini, anak melakukan semua hal yang membuatnya penasaran, seperti: memegang berbagai benda, melempar barang ke lantai, mencubit, menendang untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Memberikan hukuman tidak akan membuatnya mengerti bahwa tindakan yang dilakukannya salah. Bahkan hanya akan menyakitinya. Cara yang efektif adalah dengan mengatakan “Tidak” saat ia melakukan hal yang tidak benar dan menjauhkannya dari situasi tersebut.

Sebagai contoh, saat anak memegang benda yang berbahaya, orangtua dapat mengatakan “Ini tidak boleh kamu pegang” dan menyingkirkan benda tersebut. Ada kalanya saat orangtua melakukan hal tersebut, anak akan marah, berteriak, atau menangis.  Bila hal tersebut terjadi, sebaiknya berikan timeout untuk si kecil. Timeout merupakan tindakan mendisiplinkan anak  dengan cara memisahkannya dari lingkungan yang disukainya.

Ketika si kecil terasa sangat sulit diatur, orangtua bisa melakukan timeout dengan menaruhnya di boks bayi selama beberapa menit. Ingat, pada usia  ini anak suka mencontoh perilaku orangtuanya. Oleh karena itu, pastikan orangtua tidak memberikan hukuman fisik karena ia akan dapat mencontohnya di kemudian hari.

Usia 3-5 tahun

Di masa ini anak sudah bisa berkomunikasi dengan orangtua dan mulai mengerti konsekuensi dari tindakan yang dilakukannya. Oleh karena itu, cara yang tepat untuk mendisiplinkannya adalah dengan memberi aturan yang jelas dan memberi konsekuensi bila aturan tersebut dilanggar.

Misalnya bila anak mencoret-coret tembok dengan pensil warnanya, orangtua dapat memberitahunya bahwa tembok bukan untuk dikotori. Jika si kecil ingin mencoret-coret, ia dapat menggunakan kertas. Bila ia mengulanginya lagi, orangtua dapat mendisiplinkannya dengan mengajaknya membersihkan tembok yang dikotorinya.

Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan sanksi disiplin untuk anak adalah berikan sanksi yang berhubungan dengan kesalahan yang dilakukannya, seperti pada contoh di atas. Selain itu, bila anak mentaati aturan yang dibuat orangtua, jangan lupa berikan pujian padanya.

Usia 6-8 tahun

Hampir sama dengan tahapan usia sebelumnya, terapkan aturan yang jelas dan konsekuensi bila aturan tersebut tidak dipatuhi. Bedanya dengan balita, di tahap usia ini  anak lebih sering menentang. Seringkali ia melanggar aturan dan tidak mau mengikuti konsekuensi yang ditetapkan. Bila hal tersebut terjadi, orangtua harus tetap konsisten dengan aturan yang dibuat dan jangan memberikan hukuman fisik, melainkan alihkan energi anak kepada hal lain yang positif.

Salah satu contoh adalah ketika si sulung memukuli adiknya sekalipun sudah diperingatkan. Daripada menghukumnya, lebih baik orangtua mengajak si sulung membantu menyiram tanaman atau membersihkan mainannya. Tidak perlu khawatir anak akan menjadi bandel bila orangtua tidak menghukumnya karena sebenarnya anak sudah mengerti aturan yang dibuat orangtua, namun terkadang ia  senang menentang di tahap usia ini.

Usia 9-12 tahun

Saat ini anak sudah lebih dewasa dan sudah mulai mengerti aturan dan disiplin yang baik bagi dirinya. Orangtua mulai tidak perlu membuat sanksi bila anak tidak disiplin, melainkan bisa membiarkan anak mengalami ‘konsekuensi alami’. Misalnya, saat anak yang berusia kelas 6 SD tidak mau mengerjakan tugas dari sekolah sekalipun orangtua sudah mengingatkannya. Orangtua tidak perlu memberinya sanksi, melainkan mengizinkan anak mendapat ‘konsekuensi alami’, yaitu ditegur gurunya di sekolah.

Sekarang Anda telah mengetahui bagaimana cara mendisiplinkan anak yang tepat sesuai usianya. Selamat mempraktikkannya ya!

No comments: